Kamis, 29 November 2018

Mblekethek Antologi Terjelek Sepanjang Sejarah Sastra Indonesia

Pancen Zaman Mbleketek

Mbleketek memang, tentu bukan benang ruwed. Mungkin alam ini menghendaki demikian, tak semata 'apa boleh buat, buktinya tetep ditelan juga. Bahkan ada yang menari seperti udang dalam bubur-udang. Dicari kemana daging udang itu dalam panci bubur-udang, tetep tidak ketemu. Ternyata penjualnya bilang, udangnya tak akan ketemu karena udangnya digerus dengan sambal ! Ah, bisa-bisa saja penjual bubur-udang itu berkelit. Tetapi ketika ahli kuminer mencicipi masakan itu, katanya, ada udang dalam bubur-udang.
Katanya, " Enak jamanku ya Bro?". Tentu bukan untuk yang sengsara di zaman ini, sebab yang sengsara jaman doeloe juga bukan main banyaknya. Anehnya yang kecukupan dan berkah di zaman ini bilang "Enak jamanku doeloe", kan aneh?
Ya sudah, wong maunya ngomong begitu biarin. Esok harinya kedapatan orang yang bilang enak dijaman doeloe itu membeli mobil baru (buktinya juga banyak, di jalan mobil baru banyak dipakai) , padahal di zaman doeloe boro-boro orang beli mobil, pit onthel saja gak kebeli. Lhoh? Macam mana pula ini orang?. Itulah Indonesia.
Lucunya lagi ada penyair yang dapat duit besar karena "disumpel cangkeme pakai segepok atusan ewu, dihujat teman-temannya. ada yang bilang munafik, 'gembel babu, 'carmuk, sampai kethek nemoni mulud. Suatu saat giliran dirinya dipanggil untuk disumpel bacotnya. Kemudian dia bilang katanya ini karena prestasi karya sastranya. Ndasmu "kunyuk pada karo aku jebule. Jangankan coca-cola, ubi mentah diiris-iris juga rebutan. seperti monyet di Plangon Cirebon.
Di dunia kepenyairan mblekethek juga terlihat. sampai-sampai orang lupa kritikus dan kurator. Tetapi tanpa dikritik juga penyairnya bisa terkenal. Doeloe untuk menjadi terkenal karyanya dihantam kritik dan dibicarakan banyak orang, sekarang lain. Untuk menjadi terkenal boleh dengan cara apa saja. Doeloe ada yang ngamen di mobil bus dengan baca puisi. Ada yang bilang, "belum masuk bui berarti belum terkenal"! ha ha ha ia sih.
Sekarang setiap kota punya penerbit, perkara buku laku apa tidak itu nomor dua. Bilang saja "best seller" padahal nyetaknyua cuma 10 eksemplar. Wah wak wah.
Pancen zaman blekethek sekarang ini!
(Rg. Bagus Warsono, Sastrawan tinggal di Indramayu)















Penyair Antologi Mblekethek

Penyair :

1.Rg Bagus Warsono, (Indramayu)
2.Winar Ramelan, (Denpasar)
3.Buanergis Muryono (Depok)
4.Yoseph Yoneta Motong Wuwur (Kupang)
5.Wardjito Soeharso (Semarang)
6.Aloysius Slamet Widodom (Jqkarta)
7.Edy Priyatna (Depok)
8.Pensil Kajoe
9.Nila Kesuma
10.H. Asril, (Indramayu)
11. Heru Mugiarso, (Semarang)
12. Raeditya Andung Susanto (Banyumas)
13.Sarwo Darmono (Lumajang)
14.Gilang Teguh Pambudi (Jakarta)
15.Sri Sunarti (Indramayu)
16.Nur Komar (Jepara)
17.Zaenni Bolli (Flores)
18.Arya Setra (Jakarta)
19.Uyan Andud (Kediri)
20.Sujudi Akbar Pamungkas (Kalteng)
21. I Ketut Aryawan Kenceng (Klungkung)
22. Leli Luyantri (Indramayu)
23. Mohammad Mukarom.
24. Edi Kuswantono
25. Firman Wally (Ambon)
26. Alkalani Muchtar (Kalimantan Selatan)
27. Ade Sri Hayati (Indramayu)
28. Raden Rita Maimunah (Padang)
29. Roymon Lemosol (Ambon)
30.Sukma Putra Permana (Jogyakarta)
31.Heru Marwata (Jogyakarta)
32.Alhendra Dy (Bangko Maringin Jambi)
33.Sami’an Adib (Jember)
34.Jen Kelana (Bangko, Jambi)
35. RB. Edi Pramono (Jogyakarta)
36.Carmad (Indramayu)
37.Barokah Nawawi (Semarang)
38. Muhamad Iskandar
39.Syaiful B. Harun (Banyuasin)
40.Muhammad Lefand (Jember)
41.Iwan Bonick (Bekasi)
42.Meinar Safari Yani (Klaten)
43Rai Sri Artini (Badung)
44.Wanto Tirta (Jakarta)
45.Gregorius Andi (Jogyakarta)
46.Muhammad Affip
47. Sri Budiyanti
48. Suyitno Ethex.










Puisi-puisi antologi Mblekethek 1-6

1.
Rg Bagus Warsono

Dibawah Atap Puisi beralas Puisi

Dan penyair-penyair gelisah
berjalan seiring antrian kendaraan macet
sambil membawa buku antologi gila
sebentar-sebentar bukunya dibaca
untuk sekedar memalingkan muka
yang tak sudi melihat
yang berjalan dengan mata kakinya sendiri.
Tak malu lagi ia berteriak
dalam irama isi buku puisi
untuk kemudian ia berdiri di atas jembatan
dan orang-orang panik melihat penyair bunuh diri
Sinting!
frustasi!
Edan!
Tidak, ia tidak seperti dugaanmu gila.
Dia bosan dengan semuanya
akan Indonesia kita !
buarkan ia dibawah atap beralas puisi ,

(rg bagus warsono, 18-09-2-18)










2.

Winar Ramelan

Angin


Kau tahu angin?, ya, angin adalah udara yang bergerak. Bergerak menuju ruang ruang terbuka dan tersembunyi.

Seperti kau, bergerak dan menggerakkan, agar mimpi mimpimu kesampaian dengan angin surga kau hembuskan.

Menjadikan diri idola dengan dalil dalil kusam, dengan moncong corong menggema di lorong lorong.

Kosong, ya nyatanya kosong melompong, seperti angin yang kau keluarkan dari bokong. Bau sampah yang meracuni orang orang lugu demi ambisimu yang ambigu.

Anginmu adalah angin surga yang kau hembuskan dengan kata kata bohong demi mimpi mimpimu.

Angin surgamu adalah kentut!
Bruuut... Bruuut... Bruuut!

(18-09-2-18)






Winar Ramelan

Peluru Nyasar

Peluru nyasar
Menembus ruang dewan
Menjadi berita utama
Bualan bahkan  cacian

Di surat kabar dan televisi
Lebih heboh lagi berita di media on line
Yang bisa dikomsumsi dengan gawai super mini
Ditelan oleh otak super mini
Menjadi pelintiran pelintiran yang susah diurai

Kepalaku telah padat
Oleh berita yang diumbar kepala dewan
Dari yang benar, sampai olok olokkan kepada pemerintahan
Sedang mereka adalah bagian dari pemerintahan itu sendiri
Para pejabat yang diperintah rakyat

Peluru nyasar
Seperti omongan para anggota dewan
Kesasar sasar 
"duh, peluru kok nyasar, lupa bawa peta ya, seperti om yang setingkat pengacara, bisa nyasar di jalanan kota"
Seperti itulah mereka


Winar Ramelan

Jamur Tai sapi

Bagai jamur yang tumbuh di kubangan kotoran sapi
Ditelan manusia, manusia sempoyongan
Dengan kepala kosong tanpa nalar
Mulut berbuih dengan omongan memabukkan

Begitulah berita berita yang sedang dimunculkan 
Dengan mengucilkan kebenaran 
Mengkerdilkan keadilan
Senyatanya kebenaran bagai pohon beringin
Dengan daun mencapai langit Sang maha
Akar akarnya kuat memeluk bumi

"Siapa yang menggoyahkan, angin besarkah yang diciptakan sebagai issu yang memojokkan lawan
Agar daun daun kebenaran berguguran?”

Manusia yang tertelap di atas meja kerja
Berkoar tentang dirinya yang putih
Mengkritisi pola kerja saudaranya
Yang terjaga dengan bekerja setulus jiwa
"kau mengigau bung, setelah menelan kudapan jamur dari kubang tai sapi
bangun bung, cuci mukamu, cuci otakmu
dan belajar membaca lalu berpikir dengan jernih!”




Winar Ramelan lahir di Malang 05 Juni, kini tinggal di Denpasar. Menulis kumpulan puisi tunggal dengan judul Narasi Sepasang Kaos Kaki.
Puisinya pernah di muat harian Denpost, Bali Post, majalah Wartam, Dinamikanews, Tribun Bali, Pos Bali, konfrontasi.com, Sayap Kata, Dinding Aksara, detakpekanbaru.com. Kompasiana, Flores Sastra, Antologi bersama Palagan, Untuk Jantung Perempuan, Melankolia Surat Kematian, Klungkung Tanah Tua Tanah Cinta, Tifa Nusantara 3, Puisi Kopi Penyair Dunia, Pengantin Langit 3, Seberkas Cinta, Madah Merdu Kamadhatu, Lebih Baik Putih Tulang Dari Pada Putih Mata, Progo Temanggung Dalam Puisi, Rasa Sejati Lumbung Puisi, Perempuan Pemburu Cahaya, Mengunyah Geram Seratus Puisi Melawan Korupsi, Jejak Air Mata Dari Sittwe ke Kuala Langsa, Senja Bersastra di Malioboro, Meratus Hutan Hujan Tropis, Ketika Kata Berlipat Makna,Tulisan Tangan Penyair Satrio Piningit.















3

Buanergis Muryono

Kabeh

Kabeh
Mblekethek
Sapa sing cewok mau?
Klambiku mblekethek
Maklum
Wis patangpuluhtahun.
Untunge rambutku kinclong
Sanajan ora mblerengi.
Klambi
Celana
Kabeh
Samubarang
Pareng mblekethek
Hananging
Ati
Pikiran
Uripmu
Kudu tansah wening
Bening
Kadya tuking banyu Gunung Agung
Kang seger nguripi
Tumrap tanduran apa wae
Kang diilini.
Yuk
Ngeli
Ngeli mring kabecikan
Ning kahuripan iki
Kebak welas asih
Nuladani
Suwelasing tembang
Njih suwelas kidung macapat
Supaya weruh ing sarira
Uga weruh ing panuju.

Salam Renungan Zaman Buanergis Muryono
19 September 2018 09:20


























4.

Yoseph Yoneta Motong Wuwur

Bibir tipis

Polesan lipstik
Merah merona
Terbuai kata terucap

Bibir tipis
Lihai bersilat lidah
Sakit pendengaranku
Pada ucapan berbau busuk
Bagaikan kentut dan tinjah

Bibir tipis
Tak semolek wajahmu
Tak seindah tutur kata
Penuh kepalsuan

Kalikasa, 21 September 2018












Yoseph Yoneta Motong Wuwur

Maiu

Wajah merah padam
Aku redamkan amarah
Dalam kegamangan aku meronta

Malu
Berkubang dalam sampah
Bau menyengat hidung
Selokan penuh daki
Pergi menjauh dari bayangan buruk
Kebohongan yang kian pekat
Aku malu

Seperti inginmu
Ranting tempatmu bertengger
Layu berguguran
Terhempas
Dan hilang

     Kalikasa, 22 September 2018


Yoseph Yoneta Motong Wuwur, Lahir di Kalikasa, 17 Mei 1984 merupakan lumnus Fakultas Pertanian Universitas Flores, Ende – NTT. Menulis adalah aktivitasnya sebatas hobi dalam mengisi waktu senggang.




5.

Wardjito Soeharso

Indonesia Masa Depan

Aku melihat ke depan
Indonesia yang makin gaya
Kota-kota tumbuh gedung menjulang
Metropolitan

Banyak manusia berseliweran
Berjas pantalon dasi sangat rapi
Sibuk mengejar kehidupan
Hedonisnik

Mereka sibuk dengan diri sendiri
Berjalan lurus tak tengok kanan kiri
Tanpa tegur sapa sekedar salam
Individualistik

Coba perhatikan!
Mereka berkulit putih bermata sipit
Berambut pirang bermata biru
Orang seberang

Yang berkulit gelap coklat
Yang berambut hitam ikal
Yang penduduk asli
Ke mana mereka?

Orang-orang asli negeri ini
Terseret arus kemiskinan
Masuk ke dalam got-got
Di bawah gedung tinggi

Indonesia masa depan
Indonesia tanpa kebanggaan
Bagi anak negeri sendiri
Yang kian tersisih dari peradaban

Orang-orang seberang
Menjadi tuan yang dimuliakan
Menguasai bumi langit kekayaan
Mengatur denyut gerak kehidupan

Orang-orang pribumi
Menjadi kacung yang disepelekan
Terpaksa melayani para pendatang
Sekedar hidup mampu bertahan

Indonesia masa depan
Bumi langitmu tetap bercahaya
Namun bangsamu makin tak berdaya
Tanpa kehormatan!

23.09.2018











6.

Aloysius Slamet Widodo

Kenapa …… Koruptor, Narkobator,
Kelamintor, Boleh Jadi Wakilku?

Mas2 hakim Mahkamah Agung terhormat
Rakyat memang tidak melek hukum
Tapi rakyat punya nurani dan akal sehat
Rakyat sangat menghormati hukum
Tapi tak mengerti pikiran penegak hukum
Katanya daulat hukum ditangan rakyat
Kenapa hukum mengabulkan penjahat ?
Rakyat dikepleke sakarepe ... monggo !
Rapopo

Kalau dasarnya Hak azasi penjahat
Kenapa sampeyan tak mempertimbangkan
Hak azasi rakyat
Kenapa keadilan pribadi lebih di didulukan dari rasa keadilan masyarakat
Lihat betapa banyak wakilrakyat ditangkap
Wakil rakyatku tidak jera
malah menantang ditangkap
Kalau dasarnya keadilan
Keadilan untuk siapa?

Sampeyan ini wakil Tuhan Bro
Apa Tuhan pembela koruptor ?
Jangan main2 bawa nama Tuhan
Jangan memberhalakan Tuhan
KarmaNya bisa datang seketika
Oh jagat keadilan ..
Jagat yang gelap
Sering sesat ...
sering menyesatkan diri!

Memang dengan menjalani hukuman
Maka hak terpidana dikembalikan
Tapi bukankah kejahatan korupsi
Narkoba dan kejahatan sexsual anak
Adalah kejahatan luar biasa?
Apapun alasanya kami tidak terima
Mereka mewakili rakyat
Tapi nasi telah menjadi tai
MA telah meng exsekusi ....Asu !
Harapan kami KPU berani
mencantumkan nama bekas penjahat itu
di kertas pemilih agar tidak salah pilih

Celakanya Para partai politik di Pemilu
Walau membuat pakta integritas
Tak calonkan anggotanya yg koruptor
Tapi nyatanya masih meloloskan
Lagi lagi partai politik berbohong
Ah memang partai politik yang itu penipu
Janjinya mengajak kita bulan madu
Tapi dikasih datang bulan ! .... asuu

Partai politik itu
Di jalan benar yang sesat
Semoga rakyat memberi laknat
Suaranya kurang dari batas ambang
oleh karmanya partai politik itu hilang
Wassalam !
Jakarta 22 septembet 2018



Puisi-puisi antologi Mblekethek 7-12

7.

Edy Priyatna
Mengangkat Sajak Indah
Tersembunyi sebuah negeri impian
sebentuk suksesi perputaran
tengah atasannya tertidur
untuk sepanjang hari
di atas tempat kursi hangat

Kepentingan bertemu akan datang
senantiasa tak bertuan
mengembara ke ujung negeri
mengejar semua bayangan
rindu nan terus menggelisahkan

Perbuatan kehidupan alam dunia
hanya sekejap saja
tanpa terasa usia
lebih bertambah senja
semakin tiba di penghujung tahun

Belakang ruang janji kematian
konon rasanya negeri ini
menjadi negeri para gembeng
berpenghuni jutaan kesedihan
dalam berita angin tragis

Urutan rindu nan panjang
kesenyapan malam tenang
hanya berkawan bunga tidur
mengelana tanpa arah
mengangkat sajak indah
 (Pondok Petir, 06 September 2018)
Edy Priyatna

Sampai Kapan akan Terus Terjadi?

Masih terus berkobar 
sudah sampai sekian kasus 
telah demikian saudaraku tewas 
di samping lainnya terluka berat ringan 
semuanya baru terungkap 
dan baru sekian kasus 
masih banyak belum terselesaikan 
tertangkap demikian orang dan barang bukti 
kemudian sekian senjata api 
ada demikian granat 
dan sekian butir peluru 
hingga tadi malam telah terjadi penembakan 
ada orang tewas dan orang kritis di langkah 
sebelumnya ada beberapa orang tewas

Setelah jauh ku menjelajah
sekian orang luka berat 
kota ini terus di hantui petrus 
ada apa dengan pemerintah
ilmuku terasa ringan bila ku bawa
dalam perjalanan selalu bertanya
agar semua tahu itu apa
biar terjawab itu semua
semoga otak tak membeku
diriku senantiasa ingin mengerti
karena pengetahuan membuatku lugu
ada apa dengan aparat ini
mengapa ini di biarkan terjadi
sampai kapan akan terus terjadi
(Pondok Petir, 12 Juli 2018)
         Edy Priyatna, Lahir di Jakarta 27 Oktober 1960. Sangat suka menulis apalagi kalau banyak waktunya dan suka sekali memberikan komentar.
Menulis sejak tahun 1979 saat aktif di ‘Teater Bersama’ Bulungan Jakarta Selatan. Tulisannya, Cerpen dan Puisi pernah dimuat di beberapa surat kabar Ibukota pada tahun 1980. Pada tahun 2001 tulisannya masuk dalam buku kumpulan Cerpen dan Puisi karya sendiri “Gempa” cetakan pertama Pebruari 2012.
Dan buku “Buku Petama di Desa Rangkat” Januari 2015. Kini aktif di Kompasiana sejak 08 Maret 2011 kemudian hingga saat ini telah menulis sebanyak lebih kurang 1.700 tulisan.




















8.

Pensil Kajoe

Kumainkan Peranku dengan Improvisasi

kumainkan peranku
sesuai dengan skenario
bolehkah improvisasi
sebab aku, hamba yang mbeling
kadang eling
kadang linglung

ketika sujudku adalah bentuk tuntutan
pemenuhan segala inginku
bukan bukti kepasrahan padaMu

aku memang hamba mbeling
keimananku masih fluktuatif
naik turun seperti ombak
gelombang nafsu menghantam

aku, si manusia mbeling
yang bisa berperan manis
meski masih antagonis
sebab improvisasi kebablasen
tak eling menjadi hamba
yang lupa skenario awal
sebagai manusia.

22092018



9.

Nila Kesuma

Palu dan Arit

Ketika bernama palu bersama dengan arit, aku tidak berteman dan berusaha jauh dari jangkauan dan intimidasi semua pergerakan

Kepala palu selalu mengarah dan tertuju kepada para buruh yang tercekal suara dan pendapat

Sesungguhnya arit selalu bergejolak diantara kemarahan dengan atas namakan kemakmuran untuk para petani

Aku terlalu mencintai negriku
Tidak pula berusaha mengganti
PALU DAN PAHAT
Ketika pahat ingin berjalan mencapai tujuannya harus ku ketuk dengan palu

Begitupun aku menghapus pertemanan dengan palu dan pahat
Karena palu dan pahat harus ada sokongan dan tidak mandiri dalam berfikiran di era globalisasi dan canggih






10.

H. Asril

Desaku Hilang Separuh

Sebelum kentongan bertalu
Anak desa berderet di tajug
Menanti panggilan Ilahi         
Jamaah sholat setiap waktu
 Al Qur'an kau pegang
Sambil mengantri depan kyai
Tidur berderet di tikar mayat
Pulas sampai bermimpi
 Asholatu khoirum ninan naum...   
Dinginnya pagi menusuk sumsum
Wudhu kau bergegas
Berderet ngantri bagai menanti raskin
Didepan Kyai  Alqur'an sarapan pagi
Damai desaku kala itu....
Kini..pos kamling penuh sesak
Tajug'masjid surau tak ada canda
Deretan maling menanti
Saat kau lengah
Mobil,motor'sandalpun
Ketakutan diluar rumah
 Bisakah ku......
 Tidur pulas diatas tikar mayat
 Hanya waktu aku menanti







H. Asril

Setengah Abad

Lima puluh tahun yg lalu
Saat anak 2 mencium bau asap motor
Berderet di tepian jalan berdebu
Menanti harley,Norton lewat           
Girang mencium bau asap
Sambil berkata.........
 Mungkinkah aku dan kau
 Menaiki seperti tuan tanah.....
 Zamanpun berubah....
 Honda.....Yamaha...Suzuki
Berderet di rumah tak beratap     
Bisakah bersyukur....
Pada Tuhanmu........
Atau kau lupa NikmatNya.....
Tuhan aku takut murkaMu...
   




                               
H. Asril adalah seorang penyair kelahiran Indramayu, Tinggal di Indramayu, dan menulis puisinya dalam bentuk tulisan tangan. Kesehariannya adalah seorang ulama dan pendidik di Indramayu.


11. Heru Mugiarso

Bukan Puisi Biasa

Ini bukan puisi biasa
Kerna ditulis di balik kuitansi  mark up
Penggelembungan anggaran kantor
Maka bisa dimengerti
Jika puisi  jadi tertuduh dan ikut menanggung dosa
Dan dimintai pertaggung jawaban
Di depan petugas KPK

Atau puisi yang tersurat
Di sela kado ulang tahun selingkuhan
Maka bisa dipahami
Ia kena pasal perzinahan
Di akhirat nanti

Bahkan puisi yang dipesan oleh capres
Buat kampanye dan pencitraan
Pada tahun politik
Tahun depan
Maka bisa diketahui
Ia jadi saksi
Hidup mati
Bahwa
Puisi itu
Juga  masih mempan
Atas Uang sogok, gratifikasi dan  model amplopan

Puisi Ini bukan puisi biasa
Puisi yang diciptakan dengan cara memperkosa
Diksi, majas dan metafora
Dan segala hiasan  piranti bahasa  serta tetek bengek
Buat konsumsi zaman
Yang  makin mbleketek

Sebab puisi  biasa
Hanya laku buat merayu kamu
Agar tetap  cinta padaku
Atau hanya berlaku di  dunia maya
Yang kini  sudah kehilangan Luna..
2018

























Heru Mugiarso

Paradok Negeri Hoaks

Tak ada yang lebih sibuk dari negeriku
Yang pekerjaan warga negaranya cuma membikin dan membagi hoaks
Ada hoaks berlabel agama , ada bercap politik  atau yang murahan ala selebritis
Selayaknya pekerjaan  maka mendatangkan duit  dan tak gratis

Tak ada yang lebih riuh dari ini  bangsa
Pengguna  lima besar medsos di dunia
Selalu sibuk bikin status entah ujaran kebencian atau sindiran
Tapi inilah suara demokrasi yang mesti dimuliakan

Dan anehnya ketika suatu hari  di bagian lain negeri ada musibah
 Konon lautnya sampai tumpah  dan buminya pun merekah
Ada saja yang bikin lelucon hoaks memicu rasa marah
Konon dia mengaku dipukuli dan wajahnya berdarah-darah

Dan sungguh bodohnya  para jemaah hoakers  ikut-ikutan  melawak
Dengan kesumat dan marah yang bikin tergelak-gelak
Tapi begitulah saking mbleketeknya  itu lelucon
Akhirnya bikin mereka tampak bego dan kian bloon

Jangan kaget hidup di negeri mbleketek
Soal hukum  selalu memandang bulu ketek
Kalau rakyat jelata menyebar hoaks akan dibui
Maka  cukup dimaafkan lahir dan bathin bila pelakunya petinggi dan politisi.
2018







Heru Mugiarso, lahir di Purwodadi Grobogan, 2 Juni 1961. Menulis puisi sejak masih duduk di bangku SMP.  Karya-karya berupa puisi, esai dan cerpen serta artikel di muat di berbagai media lokal dan nasional. Sekitar enam puluhan judul buku  memuat karya-karyanya.Penghargaan yang diperoleh adalah Komunitas Sastra Indonesia Award 2003 sebagai penyair terbaik tahun 2003 Namanya tercantum dalam buku Apa dan Siapa Penyair Indonesia (2017.)Sebagai nara sumber acara sastra pada program BIANGLALA SASTRA SEMARANG TV. Juga, Pembina Komunitas Lentera Sastra mahasiswa jurusan Bimbingan Konseling Unnes.







12.

Raeditya Andung Susanto

Sibuk

Orang kita sedang sibuk menyambut Pilpres
diagendakan banyak perayaan
menggandeng segala macam profesi
elemen masyarakat hingga organisasi

Padahal pilpres biasa-biasa saja
mereka terlalu membesar-besarkan
sebab siapapun pemenangnya
kita tetap bisa bekerja

Namun tidak saat Pileg
ditambah batuk bahkan demam
buat makan saja tidak enak
apalagi untuk bekerja

WkWKWK, 9 Oktober 2018












 Raeditya Andung Susanto

Curhat

Jadi sebenarnya, saya mau curhat
Ini bukan puisi, sajak atau semacamnya
Ini cuma keluh rakyat biasa
terhadap pemerintahnya

Heran saja sama petinggi yang duduk
manis di senayan atau ibu kota sana
mereka itu gajinya sudah nganu
tapi tetap banyak nganu

Prestasinya ; nganu
Rakyatnya ; tetep nganu
Negaranya ; makin nganu

Bagaimana kalau setelah pelantikan
Presiden tahun depan kita ganti
namanya jadi Dewan Perwakilan Nganu?
Bekasi, 9 Oktober 2018

Raeditya Andung Susanto penulis asal Bumiayu, sedang menempuh pendidikan S1 di Sekolah Tinggi Teknologi di Bekasi. Pernah menjadi Juara 2 LCP tingkat Nasional 2017, Penulis RUAS Indonesia-Malaysia 2017, Antologi Puisi Abu-abu Merah Jambu, Penulis Antologi Wangian Kembang Konferensi Penyair Dunia (KONPEN) 2018, Penulis Antologi Senyuman Lembah Ijen 2018, Indonesia Lucu 2018, Menjemput Rindu Taman Maluku dan masih banyak lagi. Sedang menyiapkan buku pertamanya.

Puisi-puisi antologi Mblekethek 13-18

13.

Sarwo Darmono

Blekethek

Blekethek kuwi Reget
Blekethek kuwi Jijik
Blekethek kuwi Kotor
Blekethek kuwi elek
Blkethek kuwi sampah
Blekethek kuwi Comberan

Blekethek Ragane
Blekethek Pikire 
Blekethek Atine
Blekethek Jiwane
Blekethek Tingkah polahe

Blekethek Atine , Jiwane , Pikire
Rumangsa Bener dewe
Rumangsa Apik dewe
Rumangsa Suci dewe
Rumangsa Pinter dewe
Wong liya raneng bener lan Apike
Sak papan papan nyebar warta ora genah
Dadi sumbering Dredah
Ndadekna Congkrah para Titah
Nganti ora pirsa lan rumangsa
Blekethek e Jiwa priangga

Yen sing blekethek Ragane siniram Tirto bening sirna blekethek e
Yen sing blekethek Ragane tinutup Ageman ilang blekethek e
Ning yen sing blekethek Atine , Jiwane , Pikire
Kuwi watak angel tambane, kepara ginawa Pralaya
Wus pada pirsa bedane blekethek lan  apik tur resik
Mung kari milih nandur blekethek apa apik tur resik
Ing tembe tamtu ngunduh apa kang tinandur

Lali lali den elingna
Mumpung isih ana Rasa lan Mangsa
Urip mlaku suci bakal mukti
Urip mlaku Jujur bakal Makmur
Urip mlaku Blaka bakal Mulya
Urip mlaku prasaja bakal Raharja

Lumajang 10 Oktober 2018
pangripto Sarwo Darmono

















14.

Gilang Teguh Pambudi

Sepotong Bangunan Masjid yang Masih Kokoh

gempa dan tsunami mengecup pipiku dengan tega
katanya cuma soal perbatasan
antara cinta yang sempurna dan cobaan
tetapi siapa bisa membendung airmata
yang kau sebut juga
telah meluluhlantakkan sebagian kerajaanmu?
maaf, dalam tenang pun aku lupa membayangkan
kerajaan gempa
kerajaan tsunami
yang sekarang dipimpin oleh raja ke berapa?
apalagi dalam tertekan dan marah-marah
mendengar televisi menyebut 40 nyawa mati
aku tak bisa bergerak
nyatanya kau meralatnya dengan kabar yang membakar
ribuan yang mati
oooo, palung laut
di mana tongkat sakti untuk memukul kepala raja gempa dan raja tsunami?
tetapi sekali lagi kau malah menghiba,
airmataku telah meluluhlantakkan sebagian kerajaanmu
lalu apa yang harus aku katakan
tentang kota-kotaku yang hilang?
kau mengecup keningku lagi
dengan daftar korban jiwa,
orang-orang luka berat dan puluhan ribu pengungsi
sambil berkata, "Allah merahmati kita"
dan aku nyaris tidak dengar
--- untung masih menangkap maksudnya---
lalu terhuyung-huyung di pantai yang kacau aku berteriak,
"Berarti sepotong bangunan mesjid yang masih kokoh itu
mempertahankan hidup dengan nyawa-nyawa yang pulang
yang ditangisi ibu bapaknya
yang ditangisi kakek neneknya
yang ditangisi suami-suaminya
yang ditangisi istri-istrinya
yang ditangisi anak cucunya
yang ditangisi guru-gurunya
yang ditangisi murid-muridnya
yang ditangisi teman-temannya
yang ditangisi kekasihnya
ya Allah, kesombongan apakah yang telah kuperbuat
sehingga doaku tidak mengamankan mereka
untuk melanjutkan hidup bersama?
atau, kau ingin mengatakan
mereka yang selamat telah pulang dengan tenang
justru kepada yang masih hidup
telah dititipkan duka kelakuannya
yang biadab kepada sesama dan lingkungannya?
untuk dipecahkannya di seluas bumi
seluas lautan?
ooohhh, malangnya!
hinanya!
Kemayoran, 09102018




Gilang Teguh Pambudi.

BAU BANGKAI RUPA MELATI
aku tidak terlalu percaya demokrasi hari ini
mblekethek lebih buruk dari tai sapi dan lumpur kimia di lantai rumah
seberapa hebatpun gundulmu menyanjungnya
tetapi aku percaya apapun namanya
termasuk yang disebut demokrasi yang sempurna
aku tidak percaya pada akal-akalan kalian
mblekethek bau bangkai rupa melati
seberapa hebatpun kalian mengakaliku
tetapi aku percaya pada akal sehat
termasuk yang kau yakini, sesungguhnya itu yang paling menentramkan
mengapa gila buta kalian pada kekuasaan?
membunuh kemanusiaan dengan cerita lucu kesejahteraan?
bahkan orang-orang baik kalian tunggangi
sehingga nampak buruk rupa?
hidup nestapa fitnah belaka?
Kemayoran, 06102018

Gilang Teguh Pambudi. Penyair yang penyiar. Menulis puisi, cerpen dan artikel sejak kelas satu SMP dan mulai dimuat koran sejak kelas satu SMA/SPGN. Profesional sebagai Orang Radio Indonesia sekaligus narasumber acara Apresiasi Senibudaya di radio-radio, sambil terus menekuni dunia sastra, teater dan menjadi guru gambar anak-anak. Itu sebabnya sering dipanggil untuk menjadi pembicara senibudaya dan jadi juri teater, puisi dan menggambar.

15.

Sri Sunarti

Janji Manis Pilkada

deretan baliho,spanduk bak hiasan
di sepanjang jalan,jembatan,
bahkan dipaku di beberapa pohon
tak terpikirkan derita pohon seperti derita rakyat yang diwakili
dan termakan janji manis hati rakyatnya
deretan visi misi program
yang ditawarkan
tak menarik bagi sebagian rakyat
yang merasa terkhianati ketika sudah duduk dan melupakan mereka
satu-satu ditatapnya caleg yang terpampang
satu-satu diingatnya kiprahnya pada negeri
satu-satu tak terbantahkan janji manis dan bantuan sembako
karena hanya satu pilihan
menurut hati nurani
deretan kata penuh makna
akan pesan ibunda
kelak cari pemimpin yg ada
mengabdi pada negara
yang tak rakus akan harta
Indramayu,2018





16.

Nur Komar,

Negeri Wayang

Wayang-wayang jadi dalang
Penontonnya jadi wayang
Cerita peperangan
Cerita dagelan
Sangat super
Bikin baper
Dalangnya di belakang panggung
Main catur dan berhitung

Isu-isu dibuat naskah
Aib-aib digelar sudah
Caci maki dan mengumpat
Saling tuding dan menghujat
Agama jadi baju perang
Majulah wayang, maju serang!
Dalang asli main catur
Dalang dadakan yang mengatur

Jiwa-jiwa dipenuhi kesumat
Ancam mengancam disemat
Di setiap beranda mereka berkata
; kepada tanah air, kami cinta

Jepara, 2018




Rasanya Sampean

Rasanya belum kering benar
Seperti baru kemarin kudengar
Di bawah kitab suci sampeyan disumpah
Dengan fasih sampeyan mengucap tak tersanggah

Rasanya belum deras benar
Kerja baru menggerimis sebentar
Tapi kantongmu tergenang mata uang
Itu hujan dari mana, sayang?

Rasanya masih hangat membekas
Tidak akan berbuat culas
Tapi tak ada senikmat uang
Hingga sampeyan jadi maling jalang

Rasanya semakin kumuh sudah
Penuh serakan sampah sumpah
Orang-orang macam sampeyan bikin sengsara
Di penjara pun tidak jera
Selagi sampeyan dapat membeli
Semua jadi buta tuli

Rasanya sampeyan itu intelek paling brengsek
Lebih menjijikkan dari muntahan dalam kresek

Jepara, 2018






Nur Komar, lahir di Jepara, 1 Agustus 1977, tinggal di Jobokuto, Jepara, Jawa Tengah. Telepon/WA 081326221919. Antologi bersama yang diikuti : Kitab Karmina Indonesia (2015), Klungkung; Tanah Tua, Tanah Cinta (2016), Membaca Jepara #2,3 dan 4 (2016-2018), Lumbung Puisi Sastrawan Nusantara V dan VI; Rasa Sejati dan Indonesia Lucu (2017, 2018), Sajak-sajak Anak Negeri; Bianglala (2017), Munajat Ramadhan (2017), Tentang Masjid (2017), Bersyiar dengan Syair (2017), Kita Dijajah Lagi (2017), Kunanti di Kampar Kiri (2018), Sidik Jari Kawan (2018).






















17.
Zaenni Bolli

Cuaca Buruk

Saat cuaca buruk datang 
Aku buru buru mendekati tuhan 
Di rumah di dalam kamar 
Berharap pohon pohon tumbang tidak menimpa rumah yang ku tempati 
Sambil up date status 
Berharap tuhan dan bupati membacanya 
Entah siapa lebih dulu yang peka 
Berpestalah dilan 
Sementara diantara kabut negeri 
Widji tukul belum ketemu 
Orang kaya dengan sejuta alasan 
Membeli suaramu 
Untuk kejayaan 
Aku ingin mati bersama orang orang kalah di negeri ini 
Riston kejarlah cintamu sampai ke Boru 
Di sana ada kebun kopi juga coklat 
Aku menyebutnya Bandung van Flores
Selamat menikmati cuaca buruk Indonesia
Selamat berlibur para siswa di Larantuka
Bersoraklah bersama badai yang datang
Flores 2018






Di marahi istri
Minyak tanah habis 
Lampu padam 
Di luar hujan 
Di rumah tinggal ubi 
Jauh di luar sana sengketa masih berlanjut 
Sengketa kata 
Di padang kurusetra 
Di sini angin kencang menumbangkan pohon pisang di jalan 3 
Di sini angin ribut 
Di sana engkau ribut 
Jangan lupa bawa unti 
Atau ku tumbuk perutmu bang 
Hujan deras lampu padam 
Realitas kita tak lagi sama 
Ingin berdamai tapi di luar masih hujan 
Berdamai dengan hatimu 
Sajak
Flores 2018














Moh Zaini Ratuloli (Zaeni Boli), lahir di Flores,29 Agustus 1982. Belajar membaca puisi sejak 1989 ,belajar menulis puisi sejak 2002 biasa menulis dihalaman facebook ,tapi beberapa karyanya juga pernah ikut di Antologi Puisi menolak korupsi (Jilid 2b dan jilid 4),Memandang Bekasi 2015,Sakarepmu 2015,Capruk Soul jilid 2,Antologi Puisi Klukung 2016,Memo Anti  Kekerasan terhadap  anak,Lumbung Puisi jiid 5 “Rasa Sejati”(antologi) 2017 ,Negeri Bahari 2018 dan Koran maupun bulletin lokal di Bekasi .sejak 2013 –sekarang tergabung dalam komunitas Sastra Kalimalang(Bekasi) .Sempat beberapa kali tampil di Wapres Bulungan baik acara Sastra Reboan maupun yang lain .Juga aktif bergiat di literasi dan teater.Sekarang tinggal di Flores aktif di Nara Teater ,mendirikan TBM Lautan Ilmu dan mengajar di SMK SURA DEWA Flores Timur sekaligus mendirikan Bengkel Seni Milenial sebagai wadah eskul kesenian di sekolah tempat mengajar .















18.

Arya Setra

Mblekethek yang Mblekethek

Saat pagi setelah bangun tidur
Kulihat cuaca sangat cerah sekali
Kuhirup udara segar menghantar hayal akan indahnya hari
Kuteguk kopi sambil ku buka gadget
Namun hayalku sesaat berhenti dan buyar
Ketika para mbelekethek-mbelekethek
Hilir mudik memenuhi wall medsosku
Mereka berdebat tentang masalah mbeletekethek Yang posting si mbelekethek
Yang koment juga mbelekethek
Aku pun yg baca sambil ngelus dada
Jadi ikut mbelekethek
Emang situasi sekarang lagi mbeleketehek
Karena ulah para mbelekethek
Yang semakin hari semakin mbelekethek
Semoga saja negara kita tercinta ini
Tidak menjadi negara mbelekethek
Walau kenyataannya banyak orang-orang yang mbeleketek

 Jakarta 21 oktober 2018






Puisi-puisi Antologi Mblekethek 19-24

19.

Uyan Andud

Lelah

Aku telah ribuan tahun, bahkan lebih
Menggendongmu!
tapi  tak seberat bebanmu, kali ini
Wahai manusia modern.

Akhirnya aku sedikit gerak
untuk berak
Retak - retaklah tubuhku
Mengucur kotoran
tapi masih bleketek kotoranmu
Wahai, manusia modern

Dan kau kaget
Berlarian
tabrakan
Jatuhlah korban
Amis!
Bau jasadmu campur kotoranku
tapi masih mbleketek jasadmu

Tangislah sekencangmu

Aku telah ribuan tahun, bahkan lebih
Mengendongmu!
tapi tak seberat bebanmu, kali ini
Wahai manusia modern.

Kediri, 20 Oktober 2018

Uyan Andud, lahir bulan September 1971. Menempuh pendidikan di  daerah kabupatan Kediri; untuk SD - SPG. Sekarang tinggal di Kediri dan bekerja di daerah Kediri juga.





























20.
Sujudi Akbar Pamungkas

Sarkofagus  (3)
suara auman dan gaduhriuh kekuasaan
telah menjelma mandau ancaman bagi
setiap benak yang berceceran di samudra
kematian. bau amis dan aroma mblekethek
kebijakan yang sedemikian berbusabusuk
telah tajam menghujam tubuh, menyeret
ke dalam pusara arus yang menderadera
semakin bergolak semakin kentara jejak
urukan-urukan hidup yang telah kesekian
terbunuh dalam amuk pertarungan suntuk
betapa kejelataan hanyalah jasad yang
senantiasa merayap dan melata dalam
gemuruh badai sukacita sang penggembira
pun alibi-alibi kekuatan terus saja menebar
gelombang bualan pesona yang menjerat
ganas menggilas sisa-sisa harapan dengan
penuh keberpihakan serta keserakahan
di sini sederet papannama perlindungan
dan semboyan kemanusiaan yang begitu
heroik menggelora, justru telah menjadi
desahan-desahan manja manusia plastik
manusia yang terangsang ereksi kecantikan
palsu, kecantikan yang dimanja nafsu-nafsu
"yah, syantik-syantik manja mbleketheknya
yang syantik dan manja sepantasnya siapa?"
inilah wajah bopeng negeri kita, menebar
ancaman dan bertopeng diri. kegaduhan
ketimpangan dan kamuflase-kamuflase
adalah genderang sangkakala yang tiba
menjemput. sedemikian menyeramkan
bayangan hidup, kegelapan telah semakin
memperlebar galian kubur. segala bangkai
dan tulangbelulang saling tumpangtindih
merangsek dalam bimpitan sarkofagus!
(parit, oktober 2018)
















Sujudi Akbar Pamungkas, Lahir di Tuban 1971. Karya selain di media massa
terbit di puluhan buku Kebangkitan 1995, Getar
1996, Antologi Puisi Indonesia (API) 1997, Negeri
Bekantan 2003, Memo Presiden 2014, Kalimantan
Rinduku Abadi 2015, Burung Gagak di Palestina
2015, Jaket Kuning 2014, Puisi Menolak Korupsi-6
2017 dll. Biografinya masuk dalam buku Leksikon
Susastra Indonesia 2000 oleh Korrie Layun Rampan.
Saat ini tinggal di pedalaman Kalteng. Penyair ini tinggal di Kalteng Pedalaman Pakmas.



21.
I Ketut Aryawan Kenceng

Gaduh

Bahasa- bahasa runcing
Sumpah serapah
Sesak bertaburan
Menikam hamparan
Seringai dusta
Panjang menjulur
Sulur –sulur lidah bertuba
Menjilat pikuk laman
Tumpang tindih
Silang menyilang
Mendentumkan gelombang riuh
Bara membara
Memantik api seteru
Menderu- deru
Mematahkan telinga
Mengecutkan senyum
Gaduh merubung hari
Catatan Negeri Penyamun

Rempah berlimpah
Hasil alam meruah
Bertumpuk – tumpuk rupiah
Menjadi ladang target
Menumpuk kantung –kantung harta
Menjadi camilan empuk lezat
Sambil ngopi –ngopi berselonjor kaki
Para pemegang kendali
Kabupaten, kota dan propinsi
Berjuang sekuat tenaga
Menggaruk berjamaah
Bermuka badak
Senyum simpul
Cengar cengir
Berbaju oranye
Memenuhi layar kaca
Wara wiri
Seperti selebritis
Bergelombang mejeng
Petantang petenteng
o ,negeri yang indah
 Dijejali manusia-manusia tomat busuk
Otak soak
Penjarah ulung
Gerombolan penyamun


I Ketut Aryawan Kenceng , Klungkung Bali ,22 Desember 1959 Pekerjaan : Swasta
Karya karya sastra telah dimuat di Koran Bali Post ,Tribun Bali, Denpost , Pos Bali , Wartam
Antologi puisi : Klungkung Tanah Tua Tanah Cinta  Senyuman Lembah Ijen, Dari Sittwe ke Kuala Langsa, Haiku Melawan Korupsi ,Ketika Kata Berlipat Makna









22.
Leli Luyantri

Tuhan tertidur pulas

Tuhan tertidur pulas
Kau acungkan ibu jari sebatas pundak
Bergerilya memutari dunia
Berharap setiap pasang mata
Melihat lagi lakonmu
Yang ayu bijaksana

Tuhan tertidur pulas
Kau ciumi tangan-tangan basah
Kau tiduri kenangan lama
Hilangkan jejak buruk rupa
Kau sirami tanah surga
Dengan cinta kepura-puraan
Lakonmu yang kian mendrama
Butakan mata dunia
Mencintaimu penuh suka

Barangkali mereka lupa
Kau hanya menidurkan kenangan lama
Yang akan terbangun suatu ketika
Menghancurkan segala harap kita

Barangkali kau sungguh  lupa
Tuhan tertidur pulas
Ia tetap menatapmu was-was




Leli Luyantri atau akrab dengan nama pena Lie, perempuan lahir di Indramayu pada 18 Mei 1995. Kini tinggal di Indramayu juga.































23.
Mohammad Mukarom.

Nama Sebuah Wisata

Adalah aku.
Kauingin suatu saat
kaudatang sesaat
“Sekali-kali” katamu untuk melepas penat.
Sekali atau berkali-kali itu tetaplah menyisakan luka sayat.
Aku terdiam, aku hanya nama sebuah wisata.

(2018)












Mohammad Mukarom, Lahir di Gresik yang kini menekuni dunia kepenulisan, mulai dari Puisi, Cerpen, Esai. Dan akan terbit dua bukunya bergenre kumpulan sajak dan kisah inspiratif.
Penulis dapat dihubungi melalui WA 085843131913



24.

Edi Kuswantono

Mbleketek


Ageman saiki pating mbleketek
Anane angel diarani becik
Amarga manungsani dakik-dakik
Akhire murat marit ara mancik

Ajine diri saka lati
Awak dewe gudu wigati
Apa ae sing bakal dadi
Ajak angger ngucap anani

Aya kanca pada migatek ake
Arani sak iki wis pada ruwette
Angger ucat sak penake
Amarga tatanan wis ara digape


Jagla Jambangan, Sby, 261018









Puisi-puisi Antologi Mblekethek 25-30

25.

Firman Wally

Mbeleketek I

Kata singkat
Memikat liur kian lekat
Menguarai leher
Mencekik bibir
Mengunyah lidah
Menelan ludah

Mbeleketek
Mbleleketek
Kata singkat
Tapi menjerat leher
Bagaikan disambar gledek

Ambon, 24 Oktober 2018














Mbeleketek  II

Apa itu mbeleketek?
Itu mantra-mantra
Atau kata mutiara
Entah lah

Atau sejenis
Nyanyian pengemis
Yang nyaris teriris
Akan senyuman sinis

Mbeleketek Itu
Ledekan
Atau gledek
Atau
Atau
Sekedar
Mengedar
Matra mencekik leher
Atau
Atau
Ah

Ya sudah

Untuk itu
Aku tidak tahu
Ambon, 24 Oktober 2018

Firman Wallylahir di Tahoku, 3 April 1995
Saat ini masih mahasiswa di sebuah unv di Ambon. Mahasiswa Tinggal di Ambon.

26.

Alkalani Muchtar

Yogyakarta

Diantara lalu lintas yang padat
Dan udara dingin berdebu panas
Sepanjang jalan kehidupan
Diantara deretan toko toko batik
Dan pintu pintu yang kokoh
Sekali sekali terdengar musik jalanan
Tampa pamrih
Setiamu aku jadi rindu
Padamu Yogyakarta
Sajak dibawah bulan
Pohon pohon tanjung
Mengisahkan cerita masa lalu
Bersama usia
Yang setia menyampaikan rinduku
Yang panjang dan melelahkan.

Yogyakarta.03 Agustus 2018.











Pengembaraan

Ku coba berlari
Mengoyak ngoyak kepekaan hidup ini
Menuruni lembah
Mendaki gunung
Dengan sekecap yakin
Yang membara dalam diriku
Terbentur ditepian jurang
Dibatas yang tiada tara
Kuterjang buas keganasan ombak
Kemudi patah
Terpental pada suatu wajah
Kulukis dalam jiwaku
Dimana rantai emas itu kukalungkan
Dilehernya
Kini ku tak kenal diri
Tak tau waktu berapa lama
Telah berlalu
Tiada warna dunia bagiku

Alabio,16 Juli 2018.












27.

Ade Sri Hayati

Aku Bertanya Siapa Namamu

Lihat,  lihat,  ini sajak bebas yang ingin sekali aku bebaskan
Sekali ini,  dan itu menjadi keabstrakan dalam kontras warna yang  sekali lagi ingin aku lukiskan
Ya,  langit tidak akan selamanya gelap, 
Ia menjadi apapun yang khalik perintahkan
Itu kepastian

Bukan asumsi asumsi yang menjadi kalimat sumbang pada sebuah wacana,  atau
Tentang apapun yang menjadikannya sunyi

atau
Atau
Atau apapun yang menjadikan suka menjadi lirih
Kamu punya pengibaratan? 
Ini diksi diksi yang sengaja aku toreh pada sanubari yang sekarang bertanya
Pelan,  pelan, pelan

Dan tertawa,
Khodam yang menjadikan itu menjadi bisu
Kalimat itu yang mengutukkan
Dan aku kalah pada tangisan,
Ya bee
Bee
Bee
Indramayu 28 Oktober 2018
28.

Raden Rita Maimunah

Negeri Tak Bertuan

Tuan aku ingin bertanya ,Negeri apakah negeri kita ini
Aku petualang di  negeri sendiri
Yang tak pernah dapat singgah di satu tempat
Yang dapat nyenyakkan tidurku
Negeri ini seperti berada dalam peradaban ku no
Ada suporter bola yang di keroyok sampai mati
Guru yang menyekap muridnya
Siswa pelayaran yang terbunuh
Bunuh membunuh sepertinya hal yang biasa
Sindikat narkoba makin bertebaran di mana-mana
Di Negeri ini sepertinya hukum rimba telah berjalan
Tuan, maling bertebaran
Aman kah negeri kita Tuan?
Bingung.... bingung memikirkannya, Mbleketek

Padang, 28 Oktober 2018











Raden Rita Maimunah

Ha ….ha …ha ….

Baginda
Kehidupan ini begitu sulit
Aku masih punya nurani
Tak ingin mengemis, tak ingin maling
Honda bisa kredit, aku jadi tukang ojek
Wahai baginda penguasa
Aku telah salah parkir
Dan kalian langsung ambil hartaku
Harta satu-satunya baginda, dan suratnya lengkap
Kenapa harus motorku yang kau ambil
Kenapa tidak kau tilang saya pak polisi
Mbleketek... kehidupan  seriingkali terasa sulit dan rumit
Kita tinggal tertawa  ha...ha....ha....ha

Padang, 28 Oktober 2018



Raden Rita Maimunah, Negeri asal cianjur, profesinya  sebagai PNS tinggal di daerah lubuk minturun Padang, lahir tanggal 2 februari, bagi yang ingin kontak menambah persahabatan monggo ke “ 082172619207 atau ke WA juga boleh dengan no 081266135861, atau di FB dengan nama radenritamaimunah, beberapa karya pernah memakai nama pena Raden Rita Yusri. Sering ikut dalam Antalogi puisi, yang mau mampir ke email juga boleh maimunahraden@yahoo.co.id.

29.
Roymon Lemosol

Suksesi

menyambut sukseksi
politisi sibuk mencari kambing hitam
pada reruntuhan bangunan
dan barak-barak pengungsi tanpa memberi solusi

sedang bencana tiada menepi
hujan tak kunjung henti
mengguyur tanah tanah negeri
meski musim telah lama berganti

maka di laut,
perahu tenggelam
di darat,
rumah terendam

di udara nasib rakyat mengambang
Ambon, 28 Oktober 2018











Roymon Lemosol, kelahiran Lumoli Kabupaten SBB, Maluku 24 Agustus 1971. Karya-karyanya pernah dimuat di halaman sejumlah media lokal maupun nasional, antara lain majalah Fuly, Assau, Lombok Post, Suara NTB, Banjarmasin Post, Koran Seputar Indonesia, Media Indonesia,dll. Sebagian lagi terhimpun dalam puluhan buku antologi bersama  penyair nasional dan internasional. Buku kumpulan puisinya, Sebilah Luka Dari Negeri Malam (Akar Hujan Bojonegoro 2015). Puisinya yang berjudul “Pulang” meraih Anugerah Puisi Pilihan Gerakan 1000 Guru Asean Menulis Puisi Tahun 2018.





















30.

Sukma Putra Permana

Bbrebes Mencegah Pageblug di Masa Lalu

Lintang kemukus di malam sunyi. Membuat ciut nyali. Firasat akan datangnya wabah menjangkiti. Atau pertanda akan adanya rajapati. Segera siapkan Sega Kunar sebagai sesaji. Berupa kembang tiga rupa warna-warni. Melengkapi ayam kampung panggang dan telurnya dua-tiga biji. Dan satu tusukan brambang lombok abang di atas setangkup nasi kuwali.

Setelah didoakan agar jauh dari wabah yang sinting. Letakkanlah di salah satu sudut rumah yang dianggap penting. Esok harinya, adakanlah pertunjukan barongan dan kuda lumping. Dengan musik tradisional diarak berkeliling. Orang tua dan anak-anak kecil ikut ramai di belakang beriring. Keluar-masuk rumah-rumah penduduk menyambar bantal-guling. Tak peduli bau apek ataupun pesing. Semuanya langsung dilempar ke atap rumah di atas genting.

Setelah selesai, kuda lumping pun pusing tujuh keliling. Mungkin terlalu banyak terhirup aroma guling nan pesing.......

Oktober 2017/2018




Sukma Putra Permana

Di Alun-alun Brebes Mengobati Jemu

Pernah ada suatu saat
kita dipertemukan oleh waktu
malam hari di sebuah sudut alun-alun kota
sambil menyeruput teh poci bergula batu.
Terlarut dalam obrolan panjang
tapi tak pernah membuat lidah kelu
tentang penyair penulis sebuah puisi cinta
yang mati setelah membaca karyanya itu hingga jemu.

Mei 2016/ 2018


Sukma Putra Permana, lahir di Jakarta, 3 Februari 1971. Berproses kreatif di Komunitas Belajar Menulis (KBM) Yogyakarta. Puisi-puisinya pernah muncul dalam beberapa media cetak lokal di Surabaya, Surakarta, dan Yogyakarta. Kini, karya-karyanya lebih banyak dikurasi untuk dimuat dalam buku-buku antologi bersama. Buku puisi tunggalnya adalah: Sebuah Pertanyaan Tentang Jiwa Yang Terluka (2015, ISBN: 978-602-336-052-9).