Minggu, 16 Juli 2017

Segenggam Harapan, syair lagu keroncong yang membangun harapan budaya bangsa

Segenggam harapan
: Budiman BJ

Di ufuk timbul, manakala sinarmu redup tertutup awan
Hari cerah, tiada menjelang bagaikan punah harapan,
Tiba datang sepercik sinar pelita,
Kau remaja pembawa cahya nan terang sampaikan di hari esok
Pancarkan sinar budaya, budaya cipta pra seni yang kan abadi
Hanya padamu, kusampaikan segenggam harapanku teguh kukuhkan hatimu, junjung tinggi budayamu, semoga abadi

Perjuangan Sastrawan

Pemerintah jangan menyepelekan Sastrawan, justru harus betul-brtul menghargai , lihat saja perjuangan kami sejak 1963 dalam Manifes Kebudayaan Kami :
"Kami para seniman dan cendekiawan Indonesia dengan ini mengumumkan sebuah Manifes Kebudayaan yang menyatakan pendirian, cita-cita dan politik Kebudayaan Nasional kami.
Bagi kami kebudayaan adalah perjuangan untuk menyempurnakan kondisi hidup manusia. Kami tidak mengutamakan salah satu sektor kebudayaan di atas sektor kebudayaa lain. Setiap sector berjuang bersama-sama untuk kebudayaan itu sesuai dengan kodratnya.
Dalam melaksanakan Kebudayaan Nasional, kami berusaha menciptakan dengan kesungguhan yang sejujur-jujurnya sebagai perjuangan untuk mempertahankan dan mengembangkan martabat diri kami sebagai bangsa Indonesia di tengah masyarakat bangsa-bangsa.
Pancasila adalah falsafah kebudayaan kami.
Jakarta, 17 Agustus 1963 "

(Rg Bagus Warsono, meneruskan perjuangan)

Pertempuran Heroik di Ciwatu karya Rg Bagus Warsono 2016


Antologi Bersama Tadarus Puisi Penyair Indonesia Modern 2017 (1438 H) penerbit Pustaka Media, Yogyakarta, Penulis Penyair Indonesia Modern, Pengantar Buku Rg Bagus Warsono


Antologi Bersama Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia Jilid III , Rasa Sejati 2017 Penerbit Pustaka Media , Yogyakarta. Penulis Penyair Indonesia, Pengantar Sosiawan Leak, Pengantar Buku Rg Bagus Warsono


Rabu, 07 Juni 2017

Jangan Kunjungi Nisanku dalam Si Bung karya Rg Bagus Warsono di Buku Si Bung

Jangan Kunjungi Nisanku

Kau berdoa untukku namun kau
mengotori batu nisanku dengan abu rokok
melumurinya dengan tahi kerbau
dan menginjak-injak bumiku yang damai dengan kakimu
yang najis.
Sementara burung walet di Pantai Kidul menghargaiku
dan kera-kera hutan menjauh merasa ia tak pantas berada
bumiku damai
Padahal aku tak melarang
Sementra pengemis, gelandangan, dan petani
mengirim doa dengan tulus
tanpa doa-doa yang direkayasa
Yang hanya menutup bejat pejabat kita
Jangan kau kunjungi nisanku
Jika kau tak hendak melihatku
Karena aku sesungguhnya
Sudah tak berada di sana
Ketika orang-orang sepertimu datang di tempatku.
Rg Bagus Warson, 1993

Rabu, 26 Oktober 2016

Meriam Roda Sijagur , Cergam Karya Rg Bagus Warsono

Anak-anak harapan kita semua di masa depan bangsa ini. Lima puluh tahun kedepan apa jadinya Indonesia ini. Sekarang saja sudah meh-meh dan nyerempet-nyerempet akan krisis karakter bangsa. Buktinya bangsa lain diagung-agungkan. Suku-suku bangsa pemilik Tanah Air ini dikesampingkan kelestarian budayanya, padahal khas Indonesia pemererat bangsa. Nasionalisme anak-anak harus ditanamkan agar Indonesia tidak berkeping-keping. Itulah sebabnya aku memberi mereka jiwa kebangsaan ini melalui sentuhan baca. Agar mereka tersenyum , gembira , dan bangga menjadi bagian Indonesia yang memiliki peran di masa depan.