Rabu, 07 Juni 2017

Jangan Kunjungi Nisanku dalam Si Bung karya Rg Bagus Warsono di Buku Si Bung

Jangan Kunjungi Nisanku

Kau berdoa untukku namun kau
mengotori batu nisanku dengan abu rokok
melumurinya dengan tahi kerbau
dan menginjak-injak bumiku yang damai dengan kakimu
yang najis.
Sementara burung walet di Pantai Kidul menghargaiku
dan kera-kera hutan menjauh merasa ia tak pantas berada
bumiku damai
Padahal aku tak melarang
Sementra pengemis, gelandangan, dan petani
mengirim doa dengan tulus
tanpa doa-doa yang direkayasa
Yang hanya menutup bejat pejabat kita
Jangan kau kunjungi nisanku
Jika kau tak hendak melihatku
Karena aku sesungguhnya
Sudah tak berada di sana
Ketika orang-orang sepertimu datang di tempatku.
Rg Bagus Warson, 1993

Rabu, 26 Oktober 2016

Meriam Roda Sijagur , Cergam Karya Rg Bagus Warsono

Anak-anak harapan kita semua di masa depan bangsa ini. Lima puluh tahun kedepan apa jadinya Indonesia ini. Sekarang saja sudah meh-meh dan nyerempet-nyerempet akan krisis karakter bangsa. Buktinya bangsa lain diagung-agungkan. Suku-suku bangsa pemilik Tanah Air ini dikesampingkan kelestarian budayanya, padahal khas Indonesia pemererat bangsa. Nasionalisme anak-anak harus ditanamkan agar Indonesia tidak berkeping-keping. Itulah sebabnya aku memberi mereka jiwa kebangsaan ini melalui sentuhan baca. Agar mereka tersenyum , gembira , dan bangga menjadi bagian Indonesia yang memiliki peran di masa depan.

Rabu, 21 September 2016

Dr. Lim Swee Tin dan Prof. Dr. Faruk Tripoli,


Dr. Lim Swee Tin,

Lahir di Kelantan, Malaysia pada tahun 1952, Dr. Lim mendapat latihan sebagai guru di Maktab Perguruan Persekutuan, Pulau Pinang, 1972-73. Selepas itu, bertugas sebagai guru di beberapa buah sekolah di Kelantan. Pada 1988-92, beliau melanjutkan pengajian di Universiti Pertanian Malaysia (UPM) bagi ijazah Sarjana Muda Pendidikan Pengajaran Bahasa Melayu Sebagai Bahasa Pertama. Kemudiannya, meneruskan perkhidmatan sebagai guru di Negeri Sembilan dan Selangor. 1996-99, melanjutkan pelajaran bagi ijazah Sarjana Sastera Kesusasteraan Melayu dan 2000-05, meneruskan pengajian PhD Kesusasteran Melayu. Sejak Disember 2000 hingga 2012, beliau berkhidmat sebagai pensyarah di Fakulti Bahasa Moden Dan Komunikasi, UPM.
Dr. Lim melibatkan diri secara bersungguh-sungguh dalam lapangan kesusasteraan Melayu dengan menulis puisi, cerpen, novel, dan esei kritikan sastera serta turut mengendalikan kursus pemantapan bahasa Melayu dan penulisan kreatif kepada pelajar dan guru di Malaysia dan Singapura.
Pada tahun 2000, beliau dianugerahkan SEA Write Award oleh Kerajaan Diraja Thailand. Sebelum itu, beliau telah memenangi 25 hadiah kesusasteraan di Malaysia. Setakat ini, Dr. Lim telah menghasilkan kira-kira 60 buah buku kreatif dan nonkreatif secara perseorangan selain karya-karya ecerannya turut terkumpul dalam lebih 100 buah antologi bersama. Di sampng itu, beliau telah membentangkan ratusan kertas kerja, di dalam dan di luar negara.
Kini memegang jawatan dalam pelbagai organisasi sastera dan pendidikan milik pemerintah dan swasta, termasuk DBP, ASWARA, dan MASTERA serta menganggotai panel pemilih penerima SEA Write Award (Malaysia) dan Panel Hakim Hadiah Sastera Perdana (HSPM).
 
Dr. Lim Swee Tin,

Lahir di Kelantan, Malaysia pada tahun 1952, Dr. Lim mendapat latihan sebagai guru di Maktab Perguruan Persekutuan, Pulau Pinang, 1972-73. Selepas itu, bertugas sebagai guru di beberapa buah sekolah di Kelantan. Pada 1988-92, beliau melanjutkan pengajian di Universiti Pertanian Malaysia (UPM) bagi ijazah Sarjana Muda Pendidikan Pengajaran Bahasa Melayu Sebagai Bahasa Pertama. Kemudiannya, meneruskan perkhidmatan sebagai guru di Negeri Sembilan dan Selangor. 1996-99, melanjutkan pelajaran bagi ijazah Sarjana Sastera Kesusasteraan Melayu dan 2000-05, meneruskan pengajian PhD Kesusasteran Melayu. Sejak Disember 2000 hingga 2012, beliau berkhidmat sebagai pensyarah di Fakulti Bahasa Moden Dan Komunikasi, UPM.
Dr. Lim melibatkan diri secara bersungguh-sungguh dalam lapangan kesusasteraan Melayu dengan menulis puisi, cerpen, novel, dan esei kritikan sastera serta turut mengendalikan kursus pemantapan bahasa Melayu dan penulisan kreatif kepada pelajar dan guru di Malaysia dan Singapura.
Pada tahun 2000, beliau dianugerahkan SEA Write Award oleh Kerajaan Diraja Thailand. Sebelum itu, beliau telah memenangi 25 hadiah kesusasteraan di Malaysia. Setakat ini, Dr. Lim telah menghasilkan kira-kira 60 buah buku kreatif dan nonkreatif secara perseorangan selain karya-karya ecerannya turut terkumpul dalam lebih 100 buah antologi bersama. Di sampng itu, beliau telah membentangkan ratusan kertas kerja, di dalam dan di luar negara.
Kini memegang jawatan dalam pelbagai organisasi sastera dan pendidikan milik pemerintah dan swasta, termasuk DBP, ASWARA, dan MASTERA serta menganggotai panel pemilih penerima SEA Write Award (Malaysia) dan Panel Hakim Hadiah Sastera Perdana (HSPM).


Prof. Dr. Faruk Tripoli,
Lahir di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, 10 Februari 1957. Beliau adalah pakar di bidang ilmu budaya serta guru besar Universitas Gadjah Mada (UGM). Ia merupakan pengajar Fakultas Ilmu Budaya yang secara resmi mendapatkan persetujuan dari Mendiknas sebagai profesor pada Jun 2008.
Pendidikan Prof. Faruk bermula di sekolah dasar sampai dengan sekolah menengah atas ia selesaikan di kota kelahirannnya. Setelah lulus SMA, ia ke Yogyakarta untuk melanjutkan kuliah di Fakultas Sastra dan Kebudayaan, UGM, dan lulus tahun 1981. Tahun 1985 ia melanjutkan program S-2 di Fakultas Pascasarjana Universitas Gadjah Mada dan lulus tahun 1988. Kemudian, melanjutkan program S-3 juga di Fakultas Pascasarjana UGM dan lulus tahun 1994.
Pengalamannya sebagai dosen dimulai dengan tugasnya sebagai asisten ahli madya di Fakultas Sastra/Ilmu Budaya, UGM, tahun 1983-1985. Pada tahun 1986 hingga sekarang, ia menjadi dosen di Fakultas Sastra/Ilmu Budaya, UGM. Ia diangkat menjadi Guru Besar di Fakultas Sastra/Ilmu Budaya, UGM, tahun 2009.
Selain menjadi dosen di Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra/Ilmu Budaya, UGM, Prof. Faruk juga pernah mengajar di Hankuk University of Foreign Studies, Seoul, Korena Selatan (2007-2009) serta aktif melakukan penelitian (1998-2009). Prof. Faruk juga sering tampil sebagai pemakalah, narasumber, dan penanggap dalam kegiatan ilmiah, baik bahasa, sastra, maupun budaya.
Jabatan yang pernah diembannya pejabat sementara Kepala Pusat Studi Kebudayaan, UGM (2000-2001), Kepala Pusat Studi Kebudayaan, UGM (2001-2003), pejabat sementara Kepala Pusat Studi Kebudayaan, UGM (2003-2005), dan Kepala Program Studi Ilmu Sastra, Fakultas Ilmu Budaya, UGM (2011-sekarang).

Lahir di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, 10 Februari 1957. Beliau adalah pakar di bidang ilmu budaya serta guru besar Universitas Gadjah Mada (UGM). Ia merupakan pengajar Fakultas Ilmu Budaya yang secara resmi mendapatkan persetujuan dari Mendiknas sebagai profesor pada Jun 2008.
Pendidikan Prof. Faruk bermula di sekolah dasar sampai dengan sekolah menengah atas ia selesaikan di kota kelahirannnya. Setelah lulus SMA, ia ke Yogyakarta untuk melanjutkan kuliah di Fakultas Sastra dan Kebudayaan, UGM, dan lulus tahun 1981. Tahun 1985 ia melanjutkan program S-2 di Fakultas Pascasarjana Universitas Gadjah Mada dan lulus tahun 1988. Kemudian, melanjutkan program S-3 juga di Fakultas Pascasarjana UGM dan lulus tahun 1994.
Pengalamannya sebagai dosen dimulai dengan tugasnya sebagai asisten ahli madya di Fakultas Sastra/Ilmu Budaya, UGM, tahun 1983-1985. Pada tahun 1986 hingga sekarang, ia menjadi dosen di Fakultas Sastra/Ilmu Budaya, UGM. Ia diangkat menjadi Guru Besar di Fakultas Sastra/Ilmu Budaya, UGM, tahun 2009.
Selain menjadi dosen di Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra/Ilmu Budaya, UGM, Prof. Faruk juga pernah mengajar di Hankuk University of Foreign Studies, Seoul, Korena Selatan (2007-2009) serta aktif melakukan penelitian (1998-2009). Prof. Faruk juga sering tampil sebagai pemakalah, narasumber, dan penanggap dalam kegiatan ilmiah, baik bahasa, sastra, maupun budaya.
Jabatan yang pernah diembannya pejabat sementara Kepala Pusat Studi Kebudayaan, UGM (2000-2001), Kepala Pusat Studi Kebudayaan, UGM (2001-2003), pejabat sementara Kepala Pusat Studi Kebudayaan, UGM (2003-2005), dan Kepala Program Studi Ilmu Sastra, Fakultas Ilmu Budaya, UGM (2011-sekarang).

Rabu, 14 September 2016

Lumbung Puisi Jilid IV: Margasatwa Indonesia

Lumbung Puisi Jilid IV: Margasatwa Indonesia
Penulis : Penyair Indonesia
Editor : Hasan
Perwajahan Isi : Simages
Desain Sampul : Dwilesta
Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
Dilarang memperbanyak atau memindahkan sebagian atau seluruh
isi buku ini ke dalam bentuk apa pun, secara elektronis
maupun mekanis, tanpa izin tertulis dari penerbit atau penulis.
All Rights Reserved
Diterbitkan oleh:
Sibuku Media
Alamat : Ngringinan, Palbapang, Bantul, Bantul, Yogyakarta, 55713.
Hp. : 085643895795
E-mail : penerbitsibuku@gmail.com
Web : www.sibuku.com
Katalog Dalam Terbitan (KDT)
Penyair Indonesia, Lumbung Puisi Jilid IV; Editor: Hasan—Cetakan
1—Yogyakarta: Sibuku Media, 2016
xiv+ 126; 14 x 20 cm
ISBN: 978-602-6233-54-7
Cetakan 1, 2016

Kamis, 25 Agustus 2016

Lumbung Puisi Jilid IV Penyair Indonesia, tema Margasatwa Indonesia Dokumentasi Puisi Sastrawan Indonesia oleh Himpunan Masyarakat Gemar Membaca




Pengantar Antologi

   Banyak margasatwa kita yang punah. Ketika kapal kapal asing yang nyolong ikan ditembak ditenggelamkan, Anda tidak tahu berbagai jenis kera dari rumpun yang sama Sumatra/Kalimantan di colong juga. Apa yang ditembak apa yang ditenggelamkan. Sebab malingnya tidak kemana-mana masih berada di luar negeri. Orang kitalah yang memperkaya diri.

    Beberapa tahun lalu ada bangkai kawanan gajah, tetapi gadingnya sudah tak menempel di kepalanya.
Lalu burung-burung luar negeri yang mungkin bawa penyakit datang dari celah-celah pagar negeri , mengisi sangkar-sangkar hobies burung berkicau.
Dan sungguh luar biasa lagi, ada orang pekerjaannya melawan maut, memburu buaya ganas di sungai-sungai buas. Ternyata mereka mengambil kulit buaya itu.

   Sejak doeloe nama hewan menjadi nama kiasan untuk menamai manusia seperti contohnya 'lintah darat (rentenir), 'kuda hitam (sosok tak diduga), 'anjing menggonggong (mereka yang suka usil), 'macan tua ( tokoh tua) , macan ompong (tokoh yang sudah tak punya taring lagi) , 'kupu-kupu malam (lonte) , ular kepala dua (mata-mata) , kura-kura dalam perahu, katak dalam tempurung dan sebagainya. Ini artinya manusia menamai perilaku manusia lagi dengan perumpamaan hewan. Jadi bukan sekarang saja tetapi sejak dulu.
   Ternyata margasatwa (binatang) kita penuh filosofi, kelakuan binatang kadang cermin buat filosofi hidup. Bukan berarti lebih baik binatang dari manusia, tetapi manusialah yang mirip perilaku binatang. Atau bisa juga binatang lebih baik perilakunya ketimbang segelintir manusia yang kadang tak memiliki norma. Tetapi pernyataan ini jangan ditafsirkan demikian sebab puisi adalah gambaran , sebuah gambaran yang memiliki ragam apresiasi. Boleh jadi apresiasi itu berbeda dari sebuah puisi. Makna yang sama arti pun berbeda bila dipadukan dengan kata lain, bukan. Nah kalau begitu puisi adalah permainan kata-kata.

Jika puisi adalah permainan kata-kata maka tak perlu mempercayai puisi. Memang. Bukankah puisi itu seni? dan dinikmati? . Jangan salah juga bila apresiasi juga menimbulkan kepercayaan terhadap puisi. Buktinya banyak puisi yang memberikan kenyataan zaman. Sebab penyair menuangkan isi hati dari semua pancaindera yang dirasakan.Sebegitu dasyatnya puisi melahirkan berbagai tafsir dan perumpamaan. Tetapi sebagai manusia tetap puisi tak perlu didewakan atau dipuja. Puisi adalah puisi yang memiliki jiwa, seni, dan juga hidup.

Memang penyair itu pinter, tema margasatwa jadi tema 'marga satwa. Katanya kalau dipenggal menjadi dua kata ada marga dan satwa kalau dipisah menjadi marga satwa semakin bertambah luas tema ini, tapi tidak mengapa tambah seru. Itulah penyair kadang bilang ‘A sama-sama , bukan A besar dan a kecil tetapi katanya a bagiku berarti lain.  Bisa saja ‘a berarti satuan nominal eceran, ada juga ‘a berarti pertanyaan, ‘a berarti orang (si a) atau ‘a berarti keuntungan dsb.

Sebaliknya ada ungkapan hewan tetapi disukai masyarakat seperti 'Kecil-kecil kuda kuningan, 'Maung Bandung, "Ayam Kinantan, 'Banteng Ketaton, Cendrawasih dari Timur, dan lain-lain.

Dan dalam buku ini pembaca budiman diajak untuk ‘bercengkerama dengan puisi-puisi karya penyair Indonesia  dalam antologi khas bertema margasatwa ini yang merupakan Antologi Lumbung Puisi Jilid IV Sastrawan Indonesia.

Selamat mengapresiasi.

Penyelenggara.
Hmpunan Masyarakat Gemar membaca (HMGM)


Penulis :

1.Abu Ma’mur MF (Brebes)
2.Agustav Triono (Purbalingga)
3.Alveng Subrata(Surabaya)
4.Amrin Moha (Cirebon)
5.Anggoro Suprapto(Semarang)
6.Anjrah Lelono Broto(Jombang/Mojokerto)
7.Arif Khilwa (pati)
8.Ari Witanto (Bekasi)
9.Arwinto Syamsunu Ajie(Kebumen)
10.Arya Setra (Jakarta Utara)
11.Bambang Widiatmoko(Jakarta)
12. Damar Angara (Demak)
13.Dedy Tri Riyadi (Tangerang)
14.Denting Kemuning(Surabaya)
15.Denis Hilmawati (Bekasi )
16.Dharmadi, DP (Purwokerto)
17.Daviatul Umam (Sumenep)
18.Eka Rs (Tasikmalaya)
19.Ersa Sasmita(Jakarta)
20.Eno El Fadjeri (Jakarta Barat)
21.Eri Sofratmin (Muara Bungo Jambi))
22.Faiz Saf'ani(Tegal)
23. Fitrah Anugerah(Bekasi)
24. H. Shobir Poer (Tangerang)
25. Hadi sastra(Tangerang)
26.Harmany (Pamekasan)
27.Hasan Maulana A. G( Serawak Malaysia)
28..Heru Mugiarso(Semarang)
29.Jen Kelana(Muara Angin Jambi)
30.Kurniawan Yunianto(Semarang)
31.Little Lite (Muara Bungo, Jambi)
32.Mike Dwi Setiawati(Cirebon)
33..Mohamad Firdaus (Banyumas)
34.Muakrim M Noer Soulisa (Maluku Tengah)
35.Mukti Sutarman Espe (Kudus)
36.Nanang Suryadi (Malang)
37.Navys Ahmad(Tangerang)
38. Ni Made Rai Sri Artini (Denpasar)
39.Novia Rika (Jakarta)
40.Rachmad Basuni (Solo)
41.Refa Kris Dwi Samanta (Banyumas)
42.Rere Desvada (Bandung)
43.Riswo Mulyadi (Banyumas)
44.Rg Bagus Warsono(Indramayu)
45.Sami’an Adib (Jember)
46.Shon Sweet's(Sidoarjo)
47.Sumrahhadi (Munadi Oke)(Jakarta)
48.Sri Subekti Handayani (Bandung)
49.Supi El-Bala (Tangerang)
50.Suyitno Ethex (Mojokerto)
51.Tajuddin Noor Ganie(Banjarmasin)
52..Thomas haryanto soekiran(Purworejo)
53.W Haryanto(Blitar)
54.Wadie Maharief (Jogyakarta)
55.Wahyudi Abdurrahman Zaenal (Ketapang Kalbar)
56. Wans Sabang(Jakarta)
57.Yuyun Ambarwanto(Wonogiri)