Rabu, 08 Juni 2016

Puisi - puisi dari Rumahku di Tepi Rel Kereta Api








.1Kereta Api Tua


            Rg Bagus Warsono
Kereta Api Tua

Kereta api tua berjalan perlahan  
Meniti rel  panjang melingkar desa
Membelah pesawahan
Menembus hutan
Menyusuri lereng gunung
Menyebrang sungai
Hingga ke kota tujuan
Kereta api tua setia
Mengantar rakyat sampai tujuan.
Kereta api tua melengking peluit panjang
Suaranya nyaring mengagetkan gembala di padang
Gemuruh gemerincing besi beradu
menggetarkan
Kau masih keras besi baja
Bilakah kereta api tua lelah
Karena perjalanan panjangmu
Semoga tetap sehat selalu
Agar kami slalu bersamamu
Sepanjang usiamu.

Stasiun Jatibarang, 15-01-2006

2.Balapan


Rg Bagus Warsono

Balapan

Balap kereta api kita menerjang angin
jauh kereta medekat cepat dan menjauh kencang
lalu menghilang
dibalik desa
di serong relmu panjang
Balap kereta sekencang angin
Angin diterjang lokomotif buta
Angin berlari di  jedela kereta
Roda berputar menggilas rel
Batu bergetar menyapa kereta.

Stasiun Jatibarang , 15-01-2006





3.Lori Tua


Rg Bagus Warsono

Lori Tua

Ada lori tua dijadikan monumen
Bahwa kita pernah gagah dulu    
Mengangkut jerami, kayu, tebu dan gula
Ada lori tua ditengah kota
Menatap ibu pergi ke pasar
Menyuruh pedagang menuggu kereta
Lori tua menangis
Berpalinglah
Dulu aku yang mengantarmu
Dulu aku yang bawa belanjaan itu
Lori tua sekedar mengingatkan
kita pernah berjaya dulu
dulu aku dinanti dan disayang.

Stasiun Parujakan, 15-01-2006



4.Raja Penjelajah


Rg Bagus Warsono

Raja Penjelajah

Desa , kota, dan ibukota
Jelajah kota Jawa
Kereta cepat kebanggan bangsa
Gagah perkasa dan berjasa
Raja penjelajah
Puluhan Roda keras menggilas besi       
Rel menangis menahan beban , Kadang menyayat pilu
menahan panas percik api besi beradu
Raja penjelajah tak peduli
Siang ataukah gelap
Menapak rel menyapa kota.
             Raja penjelajah datang dan pergi secepat waktu.

Stasiun Jatibarang, 15-01-2006




5. Aku di Hanggar  Menunggu


Rg Bagus Warsono

Aku di Hanggar  Menunggu

Aku di Hanggar  Menunggu
Perintah Masinis bekerja
Menarik gerbong-gerbongmu yang panjang
Aku masih kuat berjalan
Kapan masinis memanggilku bekerja
Rodaku sudah tak sabar berputar
Per berkarat kaku
Sudah lama tak berderit
Dan kapan meniup peluit.

Stasiun Jatibarang , 15-01-2006




           



6. Tiba di Stasiun Tepat Waktu
                                                                                                               

Rg Bagus Warsono

Tiba di Stasiun Tepat Waktu

Tiba di Stasiun Tugu tepat waktu
Ibu menunggu
Aku pulang dari Jakarta kekotamu
Bersama kereta malam
Dan pagi menjelang
Ibu menanti di Stasiun Tugu
Mengharap ananda selamat segera tiba
tak perlu kecewa keretamu prosesional
Datang tetap waktu dan pergi dijarum jam itu
Ketika pintu gerbong terbuka
Ibu di depan mata.

Stasiun Parujakan , 15-01-2006







7. Tunggu Aku Kembali


Rg Bagus Warsono

Tunggu Aku Kembali

Kutinggalkan satu stasiun kecil membawa dua penumpang
Taka ada penumpang lagi tertinggal
naiklah sepur lain
lebih cepat dari mesinku
Tapi kereta jalur ini cuma satu
Yang berhenti di stasiun kecil
Kecil stasiun berhenti karena jalur
Menurunkan menaikan ke tujuan
Bertambah atau mengurangi beban tak terasa
Besar kecil sama saja bagi sepur
Aku berangkat dulu menuruti masinisku
Kelak aku kembali singgah di stasiunmu
Stasiun kecil lain segan mampir
Karena stasiun terakhir menanti
langganan mium air haus keretamu.

Stasiun Krucuk, 15-01-2006


8. Kereta Cepat Secepat Angin


Rg Bagus Warsono

Kereta Cepat Secepat Angin

Kereta cepat secepat angin lewat
Hanya lewat di stasiun kecil
Di stasiun aku menunggu kereta kedua
Kereta cepat lewat lagi
Ketika banyak orang berdiri menanti
Kereta kedua datan lalu menanti penumpang
Kereta cepat lewat lagi
Kereta kami belum juga berlari
padahal sudah empat kereta cepat  lewat.

Stasiun Purwokerto, 15-01-2006










9. Sakit Kereta di Depo 5


Rg Bagus Warsono

Sakit Kereta di Depo 5

Sakit kereta di depo lima
Karna mesin tua kurang pelumas
Sehingga asap putih menebal
Batuk mesin menyeret lok
Menyegat hidung kepala stasiun
Kau sakit perlu opname
Menunggu mekanik
Yang merawat kereta dimana mana
Sehat kereta dipecut lagi.

Stasiun Haurgeulis, 15-01-2006







10.Itu Kereta Melitas Kebunku


Rg Bagus Warsono

Itu Kereta Melitas Kebunku

Burung prenjek yang kaget
Mengalah menyingklir cepat
Gemuruh besi menindih rel
Kau lewat memberi tanda diri
Pada pisang dan pohon jati
Yang tertiup angin keras jalanmu.
Semoga slalu selamat teman
Kutatap kereta makin jauh mengecil
Dan hilang dirimbunan pohon gunung.

Stasiun Haurgeulis, 15-01-2006










Antologi Rumahku di Tepi Rel Kereta Api , Rg Bagus Warsono


          
Lihat Dik, keretamu melintas
Wah cepat sekali
Lihat di balik sana ada kereta
Tunggu aku tebak , siapa yang lewat
Wah kereta kita cepat dan gagah
Taka ada penumpang bergelantungan
Atau pedagang diatas gerbong
Itu datang lagi kereta barang
Tampak berat memikul beban
Ya itu kereta peti kemas
Wah bukan main kuatnya
Kita dari jauh saja mengamatinya !




























                                                     



   Kereta Api adalah sahabat rakyat Indonesia sejak doeloe sampai sekarang. Ia yang setiap hari mengantar jutaan rakyat Indonesia ke suatu tujuan. Takada stasiun terakhir karena esok akan kembali ke stasiun menunggumu.
   Anak-anak kita perlu mahami kereta api agar mereka mengetahui pentingnya alat transportasi ini. Siapa saja , Bapak , Ibu, Paman , Bibi atau saudara pernah naik kereta api. Dan tentunya kelak semua anak-anak kita. Diantar keretamu yang gagah perkasa.
   Sengaja penulis berikan dengan sajian puisi-puisi agar dapat dengan mudah dimengrti mereka, disamping makna ilmu pengetahuan generasi muda dan kegemaran membaca.
   Semoga buku ini bermanfaat bagi semua.

Salam Kereta Api, tut tut tut.

Penulis




















   Rumahku di Tepi Rel Kereta Api, sebuah antologi puisi yang kaya makna filosofi diketengahkan oleh penyair kita Rg Bagus Warsono sebuah antologi yang memiliki kekhasan tersendiri. Penyair ini mengambil objek sepur sebagai bahan muatan antologi yang memang telah lama akrab bagi masyarakat Indonesia.

   Puisi-puisi Rumahku di Tepi Rel Kereta Api memberikan suguhan puisi yang dapat dinikmati bagi generasi muda khususnya juga semua yng mencintai sastra.

   Ternyata di ‘wilayah sepur terdapat banyak aneka peristiwa dengan pilihan kata yang menarik bagi puisi yang slalu mencari yang terbaru. Rg Bagus Warsono ternyata mampu memotret sepur-sepur Indonesia sebagai inspirasi terciptanya puisi.           Gambaran puisi kini dan masa lalu dirangkum dalam antologi yang mampu berkomunikasi dengan pembacanya.

   Naik kereta api kadang menjadi kerinduan, menyusuri desa-desa, lembah, hutan dan melintas sungai. Lalu singgah di stasiun dan melihat kota-kota kecil yang kini makin ramai. Namun demikian sepur tak pernah macet karena memiliki jalannya sendiri.

   Sepur itu istimewa , di persimpangan jalan raya atau jalan desa ia diberi hak melaju tampa hambatan sedang kendaraan lain di jalan raya atau jalan desa dipalang pintu. Jembatannya pun milik sendiri yang hanya khusus sepur.









Jumat, 08 April 2016

Hanta Yuda

Hanta Yuda, Menggeluti Politik Laksana Hobi

Usianya masih muda. Namun pengalaman alumni Jurusan Ilmu Pemerintahan (sekarang Jurusan Politik dan Pemerintahan) FISIPOL UGM ini tak perlu diragukan. Kiprahnya dalam riset bidang politik telah membawanya untuk berbagi pikiran kepada masyarakat luas.

Hanta Yuda telah menaruh minat pada politik sejak masih duduk di bangku sekolah, salah satunya dengan aktif berorganisasi. “Politik adalah seni mengelola orang banyak. Politik juga sebenarnya bicara tentang kebaikan, meski saat ini banyak terdistorsi,” ungkap Hanta Yuda ketika ditanya alasannya tertarik menggeluti politik.

Karena itulah, selepas SMA, Hanta Yuda memilih berkuliah di Jurusan Ilmu Pemerintahan FISIPOL UGM. Kala itu, ia juga sempat menjalani kuliah di jurusan teknik sipil atas keinginan orang tuanya. Namun pada akhirnya Hanta Yuda kembali membuktikan kecintaannya pada politik sehingga memutuskan tak meneruskan kuliahnya di jurusan teknik sipil.

Mendalami bidang sesuai minat bukan berarti nihil tantangan. Dalam berbagai analisis politiknya, Hanta Yuda harus berada pada posisi seimbang sehingga tidak condong pada pihak tertentu. Motivasi utama yang dipegangnya adalah analisisnya harus memberi informasi yang mencerdaskan masyarakat.

Di tengah padatnya kesibukan, Hanta Yuda juga harus tetap membagi waktunya untuk membaca dan menulis.  Baginya, belajar ilmu politik berarti harus banyak membaca buku dan mengikuti perkembangan masyarakat. “Kalau bicara terus tetapi kurang membaca, nanti ketika saya bicara pun jadi tidak mendalam. Termasuk juga untuk menulis dan riset,” terang pria yang pernah bercita-cita menjadi tentara ini.

Selain melakukan penelitian, menulis, dan menjadi pembicara dalam berbagai seminar atau diskusi, saat ini Hanta Yuda disibukkan dengan menjabat sebagai Direktur Eksekutif Pol-Tracking Institute, pusat riset demokrasi dan kepemimpinan. Di balik seluruh aktivitasnya, Hanta Yuda masih menyimpan cita-cita, yakni melanjutkan kuliah ke jenjang S3 dan menulis buku mengenai anatomi partai politik di Indonesia.

“Jadikan pekerjaan sebagai hobi. Jadi kita tidak akan tertekan karena bekerja dengan menjalani hobi. Semuanya akan menjadi menarik dan dinamis,” ungkap Hanta Yuda.
sumber :  http://alumni.fisipol.ugm.ac.id/news/2013/12/Hanta%20Yuda,%20Menggeluti%20Politik%20Laksana%20Hobi/4

Kamis, 07 April 2016

Jusuf Sjarif Badudu atau biasa disapa JS Badudu.

JS Badudu meninggal dunia meninggal di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung, Jawa Barat, Sabtu 12 Maret 2016 pukul 22.10 WIB.

"Bangsa Indonesia kehilangan JS Badudu," tulis Jokowi melalui akun Twitternya, @jokowi, Minggu (13/3/2016).
 Jokowi menilai JS Badudu merupakan sosok teladan. Sepanjang hidupnya diabdikan untuk bahasa Indonesia. Pengabdiannya jadi teladan kita bersama


 Jokowi Bangsa Indonesia Kehilangan JS Badudu

Sabtu, 07 November 2015

Sijagur Seri kisah perjuangan rakyat Sentot

Kemenangan tentara republik untuk merebut  gudang senjata hanya mendapatkan sebuah meriam berroda. Kapten Sentot memerintahkan agar meriam beroda itu dibawa ke markas tentara republik di Cantigi.
Sijagur
Seri kisah perjuangan rakyat Sentot
    Penulis kenalkan Meriam Sijagur  sebuah meriam tentara Belanda hasil rampasan yang menjadi andalan pasukan Siliwangi di Distrik Indramayu pimpinan Kapten Sentot di masa perjuangan merebut Kemerdekaan Indonesia. 



Sijagur Seri kisah perjuangan rakyat Sentot

    Sijagur
Seri kisah perjuangan rakyat Sentot

    Cerita ini digali dari pitutur rakyat Indramayu untuk dapat dinikmati sebagai bacaan generasi selanjutnya agar memiliki ceritanya sendiri sebagai   perbendaharaan cerita-cerita khasanah daerah Indramayu  yang berserakan. 

    Indramayu banyak memiliki peninggalan sejarah yang nyaris hilang ditelan perjalanan kehidupan yang semakin tak peduli terhadap hal kecil yang tak tersentuh oleh pemikiran kita, padahal yang kecil ini justru peting untuk dapat dipelajari sebagai pengetahuan dan kadang filosofi hidup di zaman modern ini.

    Penulis kenalkan Meriam Sijagur  sebuah meriam tentara Belanda hasil rampasan yang menjadi andalan pasukan Siliwangi di Distrik Indramayu pimpinan Kapten Sentot di masa perjuangan merebut Kemerdekaan Indonesia. 


Jumat, 06 November 2015

Segera Hadir Mengisi Perpustakaan Anda : Kopral Dali sms saja 085311088734

 Di masa perjuangan kemerdekaan Indonesia,  di Indramayu  dulu Dali demikian populair. Tidak saja dilingkungan TNI tetapi di masyarakat  kota kecil Indramayu pasti mengenalnya. Kopral cerdas dan pemberani ini pantas diketahui oleh kita semua ceritanya. Semoga buku ini menjadi teman generasi muda khususnya di kabupaten Indramayu dan Indonesia pada umumnya. Sehingga kita dapat  menghargai jasa dan pengorbanan para pahlawan , seperti Kopral Dali yang satu ini.